Sinopsis Serial Drama Turki Early Bird / Daydreamer (Erkenci Kus) Episode 8 - Bayangan di Antara Cinta
**Malam itu, suara Emre di telepon mengubah segalanya.
Nada suaranya tegang, seperti seseorang yang tengah mempersiapkan badai.
“Can, aku butuh bicara. Ini tentang perusahaan,” katanya dengan nada mendesak.
Can menatap laut yang tenang di hadapannya, tak sadar bahwa ketenangan itu hanya ilusi sebelum gelombang besar datang menghantam.
Sanem berdiri tak jauh di belakangnya, memperhatikan dari kejauhan. Ia bisa melihat rahang Can mengeras, matanya tajam menatap kosong. Ia tahu sesuatu sedang terjadi — sesuatu yang buruk.
Setelah menutup telepon, Can berbalik. “Aku harus ke kantor sekarang,” katanya cepat.
“Boleh aku ikut?” tanya Sanem, suaranya lembut tapi khawatir.
Can menatapnya sejenak, lalu menggeleng. “Tidak, Sanem. Ini urusan keluarga.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menusuk hatinya. Keluarga. Sebuah dinding yang membuatnya merasa tak punya tempat di sisi pria itu.
Sementara itu, Emre menyiapkan rencananya dengan licik. Ia tahu Can mulai membuka hati lagi untuk Sanem, dan itu berarti kekuasaannya di perusahaan bisa goyah. Bersama Aylin, kekasih lamanya yang sama liciknya, Emre mulai menyebar kabar palsu bahwa Sanem kembali menjadi mata-mata — kali ini untuk pesaing perusahaan.
“Aku tak ingin menghancurkan gadis itu,” kata Aylin sambil tersenyum dingin. “Aku hanya ingin membuatnya terlihat bersalah.”
Emre terdiam. Ia mulai ragu, tapi egonya lebih kuat daripada nuraninya.
Keesokan harinya, suasana kantor mencekam. Semua orang membicarakan kabar tentang kebocoran data proyek terbaru.
Deren, dengan mata tajamnya, langsung menatap Sanem. “Lucu ya, kebocoran selalu terjadi ketika kau terlibat,” ucapnya sinis.
Sanem tertegun. “Apa maksudmu?”
Namun sebelum sempat menjawab, Can masuk dengan wajah serius.
“Semua ke ruang rapat. Sekarang.”
Di ruangan itu, ketegangan menebal. Can berdiri di depan semua orang, tangannya menggenggam berkas.
“Proyek penting kita bocor ke pesaing,” katanya dengan nada dalam. “Dan jejak digitalnya mengarah pada komputer Sanem.”
**Ruangan mendadak sunyi.
Semua mata tertuju padanya. Sanem memucat. “Itu… tidak mungkin! Aku tidak melakukan apa-apa!”
Can menatapnya tajam. “Kau bilang begitu terakhir kali juga.”
Seketika dada Sanem sesak. Ia ingin berteriak bahwa ia tak bersalah, tapi melihat ekspresi Can — dingin, penuh kekecewaan — membuat suaranya lenyap.
“Aku percaya padamu, Sanem,” lanjut Can pelan, “tapi sekarang… aku butuh bukti.”
Kata-kata itu menghancurkan segalanya.
Sanem menunduk, air mata menetes di atas meja rapat.
Malamnya, Sanem kembali ke rumah. Ibunya memeluknya erat, tapi pelukan itu hanya membuatnya ingin menangis lebih keras.
“Kenapa selalu aku yang disalahkan?” bisiknya lirih. “Aku hanya ingin jujur. Aku hanya ingin dipercaya.”
Sementara itu, di apartemennya, Can menatap foto-foto Sanem di layar kameranya — senyumnya, sorot matanya, ekspresi canggungnya.
Ia ingin percaya pada gadis itu. Tapi akalnya terus melawan hatinya. Bagaimana jika dia berbohong lagi?
Dalam diam, Can menutup kameranya. Namun di hatinya, keraguan itu berubah menjadi sakit yang tak bisa dijelaskan.
Keesokan paginya, Leyla, kakak Sanem, menemukan sesuatu yang aneh. Ia melihat Aylin keluar dari ruang server kantor malam sebelumnya melalui rekaman CCTV. Tanpa ragu, ia membawa bukti itu kepada Can.
“Ini, Tuan Can,” katanya cepat. “Kau harus lihat ini sebelum menghancurkan Sanem sepenuhnya.”
Can membuka rekaman itu — dan hatinya langsung bergetar.
Wajah Aylin muncul jelas di layar. Semua bukti palsu yang menuduh Sanem ternyata jebakan.
Can menatap layar itu lama, lalu menutupnya. Matanya memerah.
“Ya Tuhan…” gumamnya. “Apa yang sudah kulakukan?”
Sore itu, Can berlari keluar dari kantor. Ia mencari Sanem ke mana-mana — ke taman, ke toko keluarganya, bahkan ke jalan-jalan kecil di sekitar rumahnya.
Dan akhirnya, ia menemukannya di tepi dermaga, duduk sendiri, menatap laut senja dengan mata sembab.
Can berdiri di belakangnya, tak berani bicara.
Sanem tahu ia datang — ia bisa merasakannya dari aroma laut yang bercampur dengan wangi khas parfum Can yang ia kenal begitu baik.
“Aku tidak melakukan apa-apa,” kata Sanem pelan, tanpa menoleh.
“Aku tahu,” jawab Can lirih. Suaranya bergetar. “Aku… aku salah.”
Sanem menoleh, air matanya mengalir deras. “Kau selalu datang terlambat, Can. Selalu setelah aku hancur.”
Can mendekat, menatapnya dalam-dalam. “Aku terlambat, tapi aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”
Ia mengulurkan tangan, tapi Sanem menatapnya dengan mata penuh luka.
“Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa kau minta kembali, Can,” katanya lirih. “Itu sesuatu yang harus kau bangun dari awal… kalau aku masih sanggup.”
Can menatapnya tanpa kata. Di antara mereka, angin laut berhembus, membawa aroma asin dan kenangan yang belum sempat pulih.
Matahari tenggelam perlahan, meninggalkan langit berwarna jingga dan ungu.
Mereka berdiri berdua dalam diam — dua hati yang sama-sama terluka, tapi masih saling mencintai.
Dan di kejauhan, Emre menatap dari mobilnya, wajahnya tegang.
Ia tahu permainan ini baru saja berubah arah… dan kali ini, ia mungkin yang akan kalah.
Episode sebelumnya : Sinopsis Serial Drama Turki Early Bird / Daydreamer (Erkenci Kus) Episode 7 - Kepercayaan dan Ketertarikan
Episode selanjutnya : Sinopsis Serial Drama Turki Early Bird / Daydreamer (Erkenci Kus) Episode 9 - Jarak yang diciptakan oleh Hati
Atau lihat Daftar lengkap Sinopsis Lengkap Serial Drama Turki Daydreamer (Erkenci Kus)

Posting Komentar untuk "Sinopsis Serial Drama Turki Early Bird / Daydreamer (Erkenci Kus) Episode 8 - Bayangan di Antara Cinta"